DIREKTUR PT PRADIPTA BHUMI KONSTRUKSI: Profesional, Bangun Mentalitas Berbasis Moral
Rabu, 11 April 2018 03:56 WIB

BISNIS jasa konstruksi tak akan pernah usai dilakukan oleh banyak orang seiring laju pembangunan. Di Indonesia khususnya, serta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada khususnya, usaha jasa konstruksi ini berlangsung sangat meriah. Kemeriahan dalam arti antara proyek yang ditawarkan pemerintah setempat dengan pelaku usaha sama banyaknya.

Hal ini diakui oleh sejumlah kontraktor, salah satunya Ir Sigit Imam Suseno selaku Direktur PT Pradipta Bhumi Konstruksi Yogyakarta. Menurut dia, pelaku usaha konstruksi bejibun jumlahnya. Tiap tahun bertambah, di sisi lain proyeknya pun lumayan banyak. Sehingga seleksi dan kompetisi menjadi suatu keniscayaan, serta tantangan profesionalisme dipertaruhkan.

“Bagi saya selaku pelaku usaha konstruksi, profesionalisme merupakan kata kunci. Dari sanalah kredibilitas terbangun dengan sendirinya,” ungkap alumnus FT Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY), Rabu (11/4/2018).

Namun, lanjutnya, menuju profesionalisme tidak mudah karena menyangkut integritas diri. Dalam suasana kompetisi  yang ‘meriah’ inilah godaan bisa saja menghampiri siapa saja. Apalagi jika pemangku kebijakan bidang konstruksi di jajaran pemerintah juga tidak menjalankan amanat Undang-undang atau segala peraturan terkait, maka terjadi aksi ‘patgulipat’.

Dari mulai prosedur lelang yang tidak transparan atau curang sampai ke hal teknis lainnya. Inilah sebabnya, Sigit sejak awal kiprah di dunia usaha jasa konstruksi selalu menanamkan mentalitas yang berbasis moralitas. Ia memulai dari hal yang kecil, penuh tanggung jawab, dan amanah.

Dari sub proyek sampai pemenangan tender sejumlah proyek penting seperti antara lain proyek Pedestarian Kepatihan, Pembangunan Gedung Graha Wana Bhaktiyasa dan Penataan Komplek Kepatihan. Hasilnya seperti yang terjadi hari ini, Sigit menjadi kontraktor yang dipercaya.

Kinerja dan hasil kerjanya tak satu pun yang dikomplain masyarakat maupun pemangku kebijakan pembangunan sarana dan prasarana publik, karena memang bermaslahat bagi masyarakat. Berkaitan regulasi di bidang konstruksi, Sigit mengaku sudah bagus dan telah diterapkan. Regulasi sudah bagus,  Pengalaman selama mengeluti dunia konstruksi, jika hasil karya dapat bermanfaat bagi masyarakat itu menjadi hal yang menggembirakan.

”Jika hasil karya kita tidak terbengkalai, tidak lekang dimakan waktu bahkan tahan terhadap bencana alam gempa, itu menjadi kebanggaan tersendiri,” ujar pria kelahiran 16 Maret 1968.

Namun dibalik itu, beber man of leadership 2005, persaingan didunia konstruksi sangat keras bahkan banyak yang menghalalkan segala cara. ”Segala cara itu yang membuat miris, tapi kami harus tetap fighting,” ucapnya semangat.

Berkaitan regulasi di bidang konstruksi, Sigit mengaku sudah bagus dan telah diterapkan, pihaknya juga mengapresiasi pemerintah dengan diluncurkanya peraturan untuk menaungi tantangan  menghadapi kontraktor asing. Dengan dikeluarkanya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 dan Perpres Nomor 16 Tahun 2018, itu langkah baik Pemerintah sehingga menjadi regulasi menghadapi tantangan ke depan terhadap persaingan dengan kontraktor asing yang bermain di negeri ini.

“Ya tantangan kita hari ini dan ke depan adalah bagaimana menghadapi pelaku usaha asing. Ini tentu harus dijawab melalui profesionalisme yang didukung peraturan, rule of the game harus jelas” tutur mantan Ketua Angkatan Muda Islam Tahunan (1988).

Penulis : D-PS
Editor : ED-WK01
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News