Didirikan Dekat Permukiman, Pabrik Crusher di Bawukan Ditolak Warga
Rabu, 02 Oktober 2019 21:06 WIB

Warga+menolak+pembangunan+stone+crusher+di+Bawukan%2C+Kemalang%2C+Klaten

KLATEN (wartakonstruksi.com) - Puluhan warga Desa Bawukan, Desa Kepurun dan Desa Argomulyo yang tergabung di Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (PWPL) melakukan aksi penolakan terhadap rencana pengoperasian pabrik stone crusher oleh CV. Bamb’s & Brothers selaku pengelola pada Rabu (02/10/2019) di sekitar lokasi pabrik  crusher tersebut.

Warga yang datang dalam aksi tersebut dengan membawa sejumlah spanduk yang berisikan penolakan seperti ‘Stop Pembangunan Stone Crusher,Jangan Ganggu Ketenangan Lingkungan Kami’, Pemerintah Jangan Tutup Mata, Tertibkan usaha Tak Sesuai Aturan’, dan masih banyak lagi. Spanduk secara serentak dibentangkan di areal pabrik pemecah batu. Warga menuntut kepada pengusaha untuk memindahkan pabrik ke lokasi yang jauh dari permukiman warga.

Baca juga

Sri Widodo dari PWPL Bawukan kepada wartakonstruksi.com mengatakan, aksi ini sebagai bentuk penolakan warga terhadap rencana pengoperasian pabrik crusher. Padahal, kata dia, sebelumnya warga juga telah menolak pendirian pabrik tersebut apalagi kini mau produksi.

"Kami sejak awal menolak pendirian pabrik ditengah permukiman warga, karena akan menimbulkan kebisingan dan juga menghasilkan debu, kalau mau dirikan pabrik mbok ya di lokasi jauh dari permukiman," tegas Sri.

{$lg[1]}
Puluhan warga Bawukan, Kepurun dan Argomulyo yang menolak pendirian pabrik crusher membentangkan sejumlah spanduk penolakan di sekitar lokasi. Foto: Ist

Bamb’s & Brothers perusahaan yang menaungi usaha tersebut dipastikan belum berizin, kepastian tersebut disampaikan Sri Widodo karena sudah sangat jelas warga menolak keberadaan lokasi yang akan didirikan pabrik berada di tengah permukiman warga.

Senada diungkapkan Eko, hadirnya pabrik pemecah batu tersebut akan berdampak pada kesehatan warga karena debunya akan dihirup langsung oleh warga, selain itu ketersediaan air bagi kebutuhan warga sehari-hari akan terdampak. Bahkan, dampak sosial masyarakat berpotensi akan terpecah antara segelintir kubu yang pro pabrik dan yang kontra pabrik juga menjadi masalah yang muncul karena adanya kegiatan pemecah batu tersebut.

“Selain melakukan aksi penolakan di lokasi pabrik kami juga akan menyurati pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemkab Sleman supaya tidak memberikan izin produksi untuk perusahaan tersebut jika tetap beroperasi dilokasi saat ini. Sebelumnya kami sebenarnya sudah berkirim surat kepada pemerinta kabupaten, namun karena kemarin audah ada uji coba pabrik dengan Genset maka kami segera merespon dengan mengirim surat kedua dengan poin sama penolakan warga," jelasnya.

Eko mengingatkan, bila kemudian pihak perusahaan tersebut tetap melakukan kegiatan, lanjut dia, maka warga yang tergabung dalam PWPL akan kembali melakukan aksi dengan mengerahkan masa yang lebih besar untuk menyampaikan aspirasi sampai aspirasi mereka dipenuhi.

Penulis : D-PS
Editor : ED-WK01
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News