KULON PROGO (wartakonstruksi.com) - Krisis air bersih sebagai dampak kemarau panjang menjadi bencana tahunan di Kulon Progo. Bencana ini menimpa tak kurang dari 9 kecamatan, dan memaksa warganya harus rela membeli air bersih. Bila tidak warga terpaksa menempuh jarak yang cukup jauh agar mendapatkan air bersih guna mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari.
Memang ada Program Pamsimas dari pemerintah namun ternyata hal ini belum menyeluruh sehingga kondisi kekurangan air bersih terus terjadi. Kondisi ini mengusik anggota legislatif dan mendesak Pemkab Kulon Progo lebih responsif mencari solusi terbaik.
Baca juga
Anggota Komisi 3 DPRD Kulon Progo, Pancar Topo Driyo SE mengatakan, ada sumber mata air yang bisa dijadikan salah satu solusi bagi pemerintah guna memperkecil dampak kekeringan yang dialami masyarakat. Sumber air ini berada di perbatasan Sentolo dan Pengasih, tepatnya di perbatasan Pedukuhan Derwolo dan Pedukuhan Nglothak Desa Kaliagung.
Sumber air ini tidak mengalami kekeringan saat puncak musim kemarau pada tahun ini. “Ini kan bisa menjadi salah satu solusi bagi pemerintah kalau dinas teknis itu bisa lebih cermat. Sumber air ini bisa dijadikan sumursible atau Pamsimas dan hasilnya bisa dimanfaatkan secara langsung oleh warga di sini,” ungkap Pancar.
Muslihatun, warga Pedukuhan Nglothak Desa Kaliagung yang ditemui pada Selasa (5/11/2019) membenarkan bahwa lebih dari 15 Kepala Keluarga yang terdiri dari dua pedukuhan pada musim kemarau tahun ini menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumber air tersebut. “Saya ngambilnya juga dari sana, dan warga dari pedukuhan sebelah juga kesana. Kalau jaraknya ya lumayan mungkin sekitar satu kiloan,” ujar Muslihatun.
Sumber air di wilayah tersebut memiliki kedalaman sekitar 1 meter serta berada dalam sebuah bangunan berdiameter sekitar 1,5 meter persegi. Saat puncak musim kemarau tahun ini volume airnya sempat mengalami penyusutan namun masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
Ketua Komisi 2 DPRD Kulon Progo, Priyo Santosa SH, MH mengamini pernyataan koleganya, Pancar. Menurut dia seharusnya Pemkab sudah menyusun formula penanggulangan kekeringan secara sistematis dan berkelanjutan. Selain itu saat memasuki musim kemarau panjang sudah memiliki solusi dan antisipasi agar dampak yang ditimbulkan tidak meluas.
“Instansi teknis seharusnya sudah memetakan potensi mata air yang ada dan sudah memiliki strategi pembangunan maupun penanggulangan saat memasuki musim kemarau sehingga kelangkaan air untuk kebutuhan warga sudah teratasi,” pungkas Priyo.
Informasi yang berhasil dikumpulkan tidak kurang dari 9 kecamatan yang selalu mengalami krisis air bersih yakni, Kecamatan Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo, Nanggulan, Kokap, Pengasih, Sentolo, Lendah serta Kecamatan Panjatan.
| Penulis | : Bhisma Bharata |
| Editor | : Sodik |