STONE CRUSHER MARGOSARI : Setengah Tahun Beroperasi, Warga Tak Kunjung Dapat Kompensasi
Kamis, 11 Juli 2019 06:22 WIB

Suasana+lokasi+pabrik+stone+crusher+Margosari+Pengasih

KULONPROGO (wartakonstruksi.com) - Sejumlah warga Pedukuhan Gununggondang Desa Margosari Pengasih mengeluhkan belum adanya kompensasi dari stone crusher yang beroperasi di wilayah mereka. Padahal klompensasi itu bagian dari kesepakatan dengan warga dan tertuang secara tertulis.

Parjiya (54) warga Pedukuhan Gununggondang Desa Margosari mengatakan, pada Tahun 2017 silam warga yang berada di sekitar lokasi pendirian pabrik pemecah batu atau stone crusher pernah mendapatkan sosialisasi di balai desa. Dalam sosialisasi disepakati adanya kompensasi.

“Dulu pernah ada sosialisasi dari warga sini dan warga Pedukuhan Miri. Nah salah satu kesepakatannya warga sekitar pabrik yang kena dampak mendapatkan kompensasi, tapi sampai sekarang kompensasi itu juga belum ada kejelasannya,” ucap Parjiya kepada Warta Konstruksi.

Meski demikian dirinya mengakui bahwa pada bulan Februari silam warga diberi uang sebesar Rp 3 juta dan bulan Maret sebesar Rp 1 juta, namun uang tersebut akhirnya diminta untuk dikembalikan dengan alasan ada kekeliruan.

“Jadi kemaren itu pemberian uang dianggap ada kekeliruan terus diminta lagi dan sampai sekarang masih belum jelas. Kalau dulu kesepakatannya Rp 10 ribu per rit truk yang masuk lokasi,” tambahnya.

{$lg[1]}
Tumpukan material di lokasi pabrik crusher Margosari

Dari informasi yang dikumpulkan kesepakatan antara pihak pengusaha dengan warga yang tertuang dalam surat kesepakatan, di antaranya 30 persen untuk pembangunan desa, 30 persen untuk pembangunan di Pedukuhan, 20 persen untuk warga RT 06 Pedukuhan Kemiri dan 20 persen untuk warga RT 23 Pedukuhan Gununggondang.

Sedangkan meski sosialisasi pendirian penggilingan batu sudah dilakukan sejak 2017 silam namun operasional dari mesin pemecah batu tersebut baru dilakukan pada awal tahun 2019.

“Saya memang sesekali melihat kesana, jarak dengan rumah kan tidak jauh, kabarnya mesin beberapa kali rusak, sehingga baru awal tahun merek beroperasi. Kalau secara persis pemiliknya saya nggak tahu, ada yang kesini itu orang dari Wates tapi pas dulu penyerahan uang ada yang dari Bantul,” pungkas Parjiya.

Sementara dari pemantauan di lokasi pabrik pemecah batu tersebut tidak tampak adanya aktivitas yang berarti baik dari mesin pemecah batu maupun kendaraan pengangkut material yang berlalu – lalang. Yang ada hanyalah tumpukan material serta sejumlah orang yang berada di sebuah shelter di lokasi tersebut.

Penulis : Bhisma Bharata
Editor : Sodik
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News