Sudah 15 Tahun, Fasilitas Pelabuhan Tanjung Adikarto Belum Juga Termanfaatkan
Kamis, 20 Juni 2019 06:57 WIB

KULONPROGO (wartakonstruksi.com) – Nasib pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto Kulonprogo masih tak menentu. Sudah 15 tahun sejak dibangun pertama kali pada 2004, fasilitas pelabuhan ini masih belum juga termanfaatkan. Kondisi ini cukup menyedihkan karena dana yang digunakan untuk proyek ini sangat besar.

Dari seluruh fasilitas yang ada, hanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang kadang-kadang termanfaatkan. TPI biasanya digunakan saat ombak Pantai Selatan tidak terlalu tinggi dan ada nelayan yang melaut dan membawa hasil.

Tapi itu pun belum maksimal karena perahu nelayan yang beroperasi di kawasan itu dan masuk pelabuhan saat ombak dalam kondisi normal, tak lebih dari 6 unit saja. Padahal pelabuhan diproyeksi sanggup disinggahi kapal ikan dengan bobot 150 gross ton.

Salah satu pegawai di Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPI Tanjung Adikarto, Suryadi S.Kel, menuturkan kondisi pelabuhan yang masih sepi dari aktivitas diperkirakan karena gelombang laut selatan masih bisa mencapai jalur pintu masuk kapal menuju pelabuhan tersebut.

“Sebatas yang saya ketahui bangunan pemecah gelombang itu belum selesai secara keseluruhan sehingga kalau ada kapal atau perahu mau masuk pelabuhan hempasan arus gelombang masih terasa cukup besar,” tutur Suryadi.

“Perkiraan saya kalau breakwater bisa diselesaikan dan dilakukan pengerukan serta dibangun pengaman breakwater mungkin kapal – kapal niaga dan yang lain dari luar daerah bisa masuk kesini,” sambungnya.

{$lg[1]}
Pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto belum termanfaatkan dengan baik. Dari semua fasilitas, baru TPI yang kadang-kadang digunakan. Foto: Bhisma Bharata

Pujiono (50) Salah seorang nelayan asal Cilacap Jawa Tengah mengamini pernyataan Suryadi. Dia mengaku sudah lebih dari dua minggu tidak mencari ikan di laut selatan lantaran kondisi gelombang cukup tinggi mencapai kisaran lebih dari 3 meter.

“Ya sudah sekitar dua mingguan enggak cari ikan. Kalau masuk ke lokasi pelabuhan pernah tapi pas ombaknya tidak terlalu besar, kalau ombak masih besar enggak berani sama sekali,”ungkap Pujiono.

Seperti dilansir media ini sebelumnya, pembangunan fisik pelabuhan Tanjung Adikarto saat ini sudah mencapai sekitar 90 persen. Pembangunan sarana-sarana fungsional yang telah selesai dibangun berupa tempat pelelangan ikan (TPI), shelter nelayan, pabrik es, docking perbaikan kapal, dan tempat menambatkan kapal dan pemecah ombak (break water).

Pembangunan pelabuhan perikanan itu terhenti karena mengalami perubahan desain, khususnya untuk pembangunan pemecah ombak. Untuk pemecah ombak sisi sebelah timur yang telah terealisasi 220 meter rencananya akan diperpanjang menjadi 390 meter.

Sedangkan untuk sebelah barat, yang sebelumnya terealisasi 225 meter akan diperpanjang hingga 350 meter. Diperkirakan, anggaran untuk break water mencapai Rp 400 miliar.

Selain pekerjaan fisik yang masih tersisa, sejatinya masih ada pekerjaan rumah lain yang harus segera diselesaikan terutama berkaitan dengan kesiapan SDM lokal. Sejauh ini SDM lokal DIY masih masih kalah saing dibanding nelayan daerah sekitar seperti Pacitan dan Cilacap. 

Penulis : MG-WK001
Editor : Sodik
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News