MUSEUM PURBAKALA PLERET: Luas Lahan Tidak Ideal dan Butuh Tambahan Gedung

Museum Purbakala Pleret

BANTUL (wartakonstruksi.id) - Museum Sejarah Purbakala Pleret yang terletak di jalan Jejeran - Pleret, resmi dibuka untuk umum sejak 2014. Akan tetapi, luas lahan museum yang berada di bawah Dinas Kebudayaan DIY ini dinilai masih di bawah standar atau tidak ideal. "Idealnya lahan yang mau dijadiin museum ini kan luasnya 7.000 meter persegi. Kalau ini kan luasnya baru sekitar 2.222 meter persegi," ucap Susanto, Pengelola Museum Purbakala Pleret, Sabtu (19/3/2019). Wacananya pengelola akan memperluas museum ke arah selatan dan barat. Tanah di sisi selatan bagian timur museum merupakan tanah kas desa. Sedangkan di bagian barat tanah milik warga. Menurut Susanto, dalam peraturan Gubernur no. 34 tahun 2017, kendala pelebaran yang dimiliki tanah kas desa adalah tidak boleh dibeli atau harus disewa maksimal 20 tahun. Baca juga: Hanya saja, jika disewa maka tidak bisa didirikan bangunan fisik, maksimal pihaknya hanya bisa membuat taman. Untuk yang sisi barat, adalah lahan persawahan dan hanya ada satu rumah. Rumah berada persis di atas bekas benteng Kraton Mataram Islam Pleret. Terkait di sisi barat, seluruh pemilik tanah setuju tanahnya dibeli untuk pelebaran museum. Sementara itu, tanah di utara seberang jalan Jejeran - Pleret, dahulu lahan tersebut pernah akan dibeli untuk lahan parkir, tetapi tidak dijual pemiliknya dan saat ini sudah dibuat ruko-ruko di lokasi tersebut. Sedangkan parker museum, disiapkan area parker berlantai paving block di utara jalan bagian barat.

Lahan parkir disediakan Pemdes Pleret karena museum sangat membutuhkan lahan parkir. Namun, parkir tersebut dikelola oleh pihak kelurahan dan retribusinya tidak masuk ke museum. "Kalau ditarik retribusi, pendapatannya masuk ke desa. Kalau niat awalnya pembuatannya memang untuk parkir museum. Luas parkir tersebut sekitar 3.000 meter persegi," ujar Susanto. Selain lahan, imbuh Susanto, museum tersebut juga perlu penambahan gedung khususnya untuk koleksi yang masih tercampur periodenya serta ruang untuk menonton film yang kurang luas. Saat ini museum memiliki dua gedung tertutup, yakni gedung pertama untuk kantor dan tempat menonton film dan gedung kedua merupakan ruang koleksi. Arif KF
Penulis

Editor

wkeditor