Pasar Klithikan Pakuncen: Barang Baru Mendominasi, Penjual Barkas Memilih Pergi
Rabu, 17 Oktober 2018 05:29 WIB
YOGYAKARTA (wartakonstruksi.com) – Bagi pemburu barang bekas, Pasar Klithikan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta masih cukup dikenal. Pasar yang dibangun untuk menampung penjual barang bekas yang semula berjualan di Jl Mangkubumi (Margo Utomo), sempat populer di awal berdirinya. Kunjungan ke pasar ini cukup ramai. Namun lambat laun, jumlah pengunjung menurun dan lapak yang semula disiapkan bagi pedagang barang bekas mulai berubah fungsi menjadi lapak untuk barang baru. Bahkan saat ini, lapak barang baru jauh lebih banyak dari barang bekas. Baca juga: Kondisi ini cukup ironis jika melihat kembali tujuan awal pembangunan pasar ini. Alih-alih berupaya menggairahkan kembali pasar sesuai tujuan awal pembangunannya, instansi yang terkait menanganinya justru merestui perubahan fungsi pasar. Sehingga status Pasar Klithikan menjadi layak dipertanyakan. Kepala Seksi Penataan Lahan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti mengungkapkan, Pasar Klithikan awalnya bertujuan menampung pedagang-pedagang yang menjual barang bekas dan antik. Namun, karena zaman semakin berubah, maka ada pergeseran dari penjual dan pembelinya.

Salah satu sudut lorong Pasar Klithikan Pakuncen tanpak sepi lalu lalang pembeli maupun penjual barang. Foto: Arif K Fadholy

Contohnya, saat ini bukan hanya barang bekas yang dipakai namun juga barang baru.  Bahkan, ada lapak penjual yang barang bekasnya lebih sedikit ataupun yang barang baru semua. Menurut Sri, di Pasar Klithikan tidak dibatasi hanya menjual barang bekas saja, namun juga boleh menjual barang baru. Ia beralasan harus ada kelenturan regulasi agar pasar dapat berkembang. “Saat ini Pasar Klithikan lebih sepi daripada tahun-tahun sebelumnya, terutama saat awal dibuka. Penyebabnya karena saat ini banyak yang mengandalkan online shop,” katanya.

Sri Riswanti, Kepala Seksi Penataan Lahan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta. Foto: Arif K Fadholy

Dinas sendiri belum memiliki rencana strategis untuk mengembalikan ruh Pasar Klithikan sebagai salah satu ikon yang menjual barang bekas dan antic. Alih-alih memikirkan strategi itu, dinas lebih fokus memoles prasarana demi menyelaraskan dengan ambisi sebagai Smart City. Salah satunya dengan menata perparkiran dengan akan diberlakukannya e-parking. "Kalau menggunakan e-parking, itu bertahap. Soalnya Kota Yogyakarta kan sekarang sedang menggencarkan Jogja Smart City," ucap Sri. Salah satu penjual helm di Pasar Klithikan, Joy (32) menerangkan, secara fasilitas bangunan masih memadai, tetapi yang menjadi masalah adalah penjualnya yang semakin lama semakin berkurang. Penjual lebih memilih menjual lapaknya karena sepi pembeli.

Salah seorang warga melintas di antara deretan kios yang ada di Pasar Klithikan Pakuncen Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Foto: Arif K Fadholy

Setelah menjual lapak di Pasa Klithikan, penjual kemudian memilih pindah ke Pasar Sentir Malioboro. Ia memperkirakan, 20 persen pedagang di pasar itu berasal dari Pasar Klithikan Pakuncen. Menurutnya, perputaran uang penjualan barang bekas tidak seramai dulu. Saat ini perputaran barang bekas lebih lambat daripada barang baru. Sehingga, lanjut Joy, banyak pedagang yang menjual barang baru, selain barang bekas. "Ramai-ramainya di sini itu tahun 2010-2012. Saya berharap pasar ini bisa lebih ramai dan terkenal lagi seperti dulu. Kalau bisa mempertahankan pasar pusat barang bekas di sini, mungkin bisa ramai lagi," katanya.   Jurnalis : Arif K Fadholy Editor    : Sodik      
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News