Salah satu sudut lorong Pasar Klithikan Pakuncen tanpak sepi lalu lalang pembeli maupun penjual barang. Foto: Arif K Fadholy
Contohnya, saat ini bukan hanya barang bekas yang dipakai namun juga barang baru. Bahkan, ada lapak penjual yang barang bekasnya lebih sedikit ataupun yang barang baru semua. Menurut Sri, di Pasar Klithikan tidak dibatasi hanya menjual barang bekas saja, namun juga boleh menjual barang baru. Ia beralasan harus ada kelenturan regulasi agar pasar dapat berkembang. “Saat ini Pasar Klithikan lebih sepi daripada tahun-tahun sebelumnya, terutama saat awal dibuka. Penyebabnya karena saat ini banyak yang mengandalkan online shop,†katanya.
Sri Riswanti, Kepala Seksi Penataan Lahan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta. Foto: Arif K Fadholy
Dinas sendiri belum memiliki rencana strategis untuk mengembalikan ruh Pasar Klithikan sebagai salah satu ikon yang menjual barang bekas dan antic. Alih-alih memikirkan strategi itu, dinas lebih fokus memoles prasarana demi menyelaraskan dengan ambisi sebagai Smart City. Salah satunya dengan menata perparkiran dengan akan diberlakukannya e-parking. "Kalau menggunakan e-parking, itu bertahap. Soalnya Kota Yogyakarta kan sekarang sedang menggencarkan Jogja Smart City," ucap Sri. Salah satu penjual helm di Pasar Klithikan, Joy (32) menerangkan, secara fasilitas bangunan masih memadai, tetapi yang menjadi masalah adalah penjualnya yang semakin lama semakin berkurang. Penjual lebih memilih menjual lapaknya karena sepi pembeli.
Salah seorang warga melintas di antara deretan kios yang ada di Pasar Klithikan Pakuncen Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Foto: Arif K Fadholy
Setelah menjual lapak di Pasa Klithikan, penjual kemudian memilih pindah ke Pasar Sentir Malioboro. Ia memperkirakan, 20 persen pedagang di pasar itu berasal dari Pasar Klithikan Pakuncen. Menurutnya, perputaran uang penjualan barang bekas tidak seramai dulu. Saat ini perputaran barang bekas lebih lambat daripada barang baru. Sehingga, lanjut Joy, banyak pedagang yang menjual barang baru, selain barang bekas. "Ramai-ramainya di sini itu tahun 2010-2012. Saya berharap pasar ini bisa lebih ramai dan terkenal lagi seperti dulu. Kalau bisa mempertahankan pasar pusat barang bekas di sini, mungkin bisa ramai lagi," katanya. Jurnalis : Arif K Fadholy Editor   : Sodik| Penulis | : |
| Editor | : wkeditor |