Pelopor Diet Plastik, Pedagang GL Zoo Diminta Tak Sediakan Plastik
Rabu, 10 April 2019 08:28 WIB

Diet Plastik GL Zoo

YOGYA (wartakonstruksi.id) – Sampah menjadi persoalan serius yang harus mendapat atensi semua pihak. Penanganan masalah sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat, lembaga, dan instansi lainnya diperlukan agar sampah bisa dikelola dengan baik.

Bila tidak, krisis yang terjadi belum lama ini bukan mustahil akan terulang. Tapi dengan pengelolaan yang baik, dimulai dari lingkungan, setidaknya ancaman darurat sampah bisa diminimalisir. Salah satu upaya dilakukan dengan diet plastik, atau mengurangi penggunaan plastik dan bahan-bahan lain berbahan plastik.

Pentingnya diet plastik membuat lembaga konservasi seperti Gembira Loka Zoo, ikut ambil bagian mengampanyekannya. GL Zoo menggelar sosialisasi diet plastik bagi pedagang di lingkungan kebun binatang terbesar di DIY-Jateng tersebut.

Menarik dibaca:

“Sebagai lembaga konservasi, GL Zoo sedang memulai program kerja 2019 sebagai pelopor diet plastik,” kata Direktur Utama GL Zoo, KMT A. Tirtodiprojo di hadapan 130 pedagang setempat, kemarin.

Dalam mensosialisasikan diet plastik tersebut para pedagang diajak nguri-uri agar GL Zoo semakin lebih baik. “Saya minta para pedagang riil dalam melaksanakan diet plastik. Mengurangi kantong plastik dan minuman kemasan botol plastik yang disediakan bagi pengunjung. Ini supaya GL Zoo bebas plastik,” pintanya.

Pria yang akrab disapa Joko Tirtono ini mengungkapkan, mengurangi plastik di sekitar kebun binatang itu bisa dimulai dari kesadaran diri sendiri. “Kita berusaha supaya diet plastik berhasil di GL Zoo,” katanya penuh harap.

Jangan lewatkan juga:

Joko pun meminta agar para pedagang tidak lagi menyediakan kantong plastik dan menjual minuman kemasan botol plastik. “Kurangi plastik sekali pakai, termasuk tidak menyediakan alat minum sedotan dari plastik,” ujarnya.

GL Zoo sebagai anggota Perhimpunan Kebun Binatang Asia Tenggara (SEAZA) mencangkan lolos penilaian akreditasi SEAZA tentang anima walfare atau mutu kesejahteraan satwa pada tahun 2020. “Kalau kita ramah dan berbaik-baik pada alam dan lingkungan, maka alam dan lingkungan akan bermanfaat bagi kita,” pungkasnya. (Red/*) 

Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News