â€Masalahnya sudah cukup besar dan eman-eman, kalau mengenai umur dan diameter pohon kami belum mengetahuinya" - Junaidi, Kabid Kebersihan dan Pengelolaan RTH DLH Sleman.Pernyataan DLH Sleman mendapat sorotan tajam dari Aliansi Pengawas Konstruksi (APK). Melalui Direktur Eksekutifnya, Baharuddin Kamba, APK mempertanyakan kebijakan mempertahankan pohon yang mengganggu tersebut karena alasannya dinilai tidak cukup rasional.
DLH seharusnya memiliki data yang komprehensif jika ngotot mempertahankan keberadaan pohon tersebut. Mengingat dari sisi manfaat, pohon itu justru lebih banyak merugikan public ketimbang memberi manfaat.

Aneh, pohon pule ukuran besar ini terus dipertahankan karena alasan eman, sementara DLH bahkan tidak tahu diameter dan umur pohon yang banyak menimbulkan laka lantas tersebut. Foto: Dok WK
“Katanya agak dilestarikan, itu seperti apa. Dilestarikan kok agak? Ini aneh. Datanya mana sekarang di Sleman ada berapa yang tersisa dan kondisinya seperti apa, DLH semestinya punya data itu semua,†sergah Bahar.
Bahar yang juga aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) mempertanyakan kinerja DLH Sleman yang tidak tahu diameter dan umur pohon yang dipertahankannya. “Lha diameternya berapa, umurnya berapa tahun saja tidak tahu kok tetap dipertahankan. DLH selama ini ngapain aja?†tanyanya ketus. (Redaksi WK)
| Penulis | : |
| Editor | : wkeditor |