POHON BESAR di SETURAN: Dipertahankan DLH Sleman Karena Eman, Pengguna Jalan Terganggu Tak Dipedulik
Rabu, 06 Februari 2019 06:07 WIB
SLEMAN (wartakonstruksi.com) – Instansi pemerintah semestinya lebih peka terhadap lingkungan, terutama jika instansi itu langsung bersentuhan dengan penanganannya seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tapi mungkin kepekaan ini belum bisa diharapkan dari DLH Sleman. Betapa tidak, DLH Sleman memilih mempertahankan pohon besar yang disebut pohon pule di Jalan Seturan, Caturtunggal, Depok meski keberadaannya merampas hak pejalan kaki dan mengganggu pengguna jalan. Bahkan akibat pohon itu beberapa kali terjadi kecelakaan lalu lintas. Junaidi, Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Sleman mengakui bahwa pohon yang berdiameter cukup besar itu merupakan bagian dari jalan dan pengelolaannya ada di DLH Sleman. Baca juga: ”Pohon itu milik jalan, namun pengelolaaanya ada di DLH Sleman,” ungkap Junaidi menjawab pertanyaan media ini melalui pesan WhatsApp, kemarin. Menurut Junaidi, pohon tetap dipertahankan keberadaanya di lokasi itu lantaran termasuk salah satu kategori jenis pohon yang dilestarikan. ”Kalau jenisnya itu merupakan pohon pule, agak dilestarikan keberadaanya,” terang dia. Selain itu pihaknya beralasan, ukuran pohon sudah besar sehingga tetap dirawat.
”Masalahnya sudah cukup besar dan eman-eman, kalau mengenai umur dan diameter pohon kami belum mengetahuinya" - Junaidi, Kabid Kebersihan dan Pengelolaan RTH DLH Sleman.
Pernyataan DLH Sleman mendapat sorotan tajam dari Aliansi Pengawas Konstruksi (APK). Melalui Direktur Eksekutifnya, Baharuddin Kamba, APK mempertanyakan kebijakan mempertahankan pohon yang mengganggu tersebut karena alasannya dinilai tidak cukup rasional.  

DLH seharusnya memiliki data yang komprehensif jika ngotot mempertahankan keberadaan pohon tersebut. Mengingat dari sisi manfaat, pohon itu justru lebih banyak merugikan public ketimbang memberi manfaat.

Aneh, pohon pule ukuran besar ini terus dipertahankan karena alasan eman, sementara DLH bahkan tidak tahu diameter dan umur pohon yang banyak menimbulkan laka lantas tersebut. Foto: Dok WK

“Katanya agak dilestarikan, itu seperti apa. Dilestarikan kok agak? Ini aneh. Datanya mana sekarang di Sleman ada berapa yang tersisa dan kondisinya seperti apa, DLH semestinya punya data itu semua,” sergah Bahar.

Bahar yang juga aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) mempertanyakan kinerja DLH Sleman yang tidak tahu diameter dan umur pohon yang dipertahankannya. “Lha diameternya berapa, umurnya berapa tahun saja tidak tahu kok tetap dipertahankan. DLH selama ini ngapain aja?” tanyanya ketus. (Redaksi WK)

Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News