Proyek Talud Kanggotan : Tanpa Material Setempat, Kontraktor Juga Buatkan Akses Jalan Wisata
Minggu, 23 September 2018 14:49 WIB
BANTUL (wartakonstruksi.com) – Pembangunan talud Sungai Gajahwong di Dusun Kanggotan, Wonokromo, Pleret sempat menuai atensi serius. Selain dikabarkan membuat jembatan penghubung dusun retak, dan membuat saluran IPAL macet, juga dikabarkan ada penggunaan material setempat pada pekerjaan dengan biaya Rp 1,5 miliar tersebut. Tak ingin menjadi polemik, CV Erlian SW, kontraktor penggaran proyek pekerjaan milik Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) tersebut akhirnya angkat bicara. Direktur CV Erlian, Suparjo SE memastikan pihaknya tidak menggunakan material setempat. Tidak hanya itu, pihaknya justru membuatkan akses jalan. Selain untuk akses alat berat dan kendaraan proyek, akses jalan itu nantinya juga digunakan untuk jalan wisata yang direncanakan pihak desa dari muara hingga jembatan Jejeran. Baca juga:  Pembuatan akses jalan, ungkap Suparjo, pada beberapa bagian dilakukan dengan memangkas lahan yang tidak rata. Kemudian pihaknya juga membuat jalan turun ke sungai untuk akses ekskavator dilanjutkan dengan membuat jalan yang sekaligus digunakan untuk kisdam. “Jalan akses sisi timur ini dibuat menggunakan tanah yang dipangkas dari tanah yang tidak rata dan galian talud, jalan akses di bawah ini dibuat sampai ke utara. Setelah jalan akses di bawah yang sekaligus untuk kisdam ini jadi barulah dilakukan galian talud sisi timur mulai awal pekerjaan,” terang Suparjo SE, Minggu (23/9/2018). Ia menjelaskan, sisa tanah galian masih dipakai untuk menambah kisdam agar galian ‘koperan’ bisa kering untuk dilakukan pasangan. Setelah dilakukan pasangan batu, sisa galian yang digunakan untuk kisdam kemudian dinaikkan ke atas untuk timbunan kembali. “Setelah pasangan batu talud selesai, sisi timur talud ternyata masih lebih rendah daripada talud, terutama talud sisi utara yang posisi taludnya berada di atas sungai. Nah sisi galian yang digunakan untuk kisdam dinaikkan untuk menimbun atau mengembalikan lahan warga yang terkikis sekaligus digunakan untuk timbunan talud,” jelasnya. Suparjo menambahkan, untuk merapikan pekerjaan, tanah sisa galian yang digunakan untuk kisdam dinaikan sekaligus untuk normalisasi sungai dari awal hingga akhir pekerjaan. Tanah yang ada di sungai dinaikkan untuk timbunan dan perapian di timur talud. “Timbunan dibuat lebih tinggi dari talud supaya ke depan yang rencananya akan dibuat jalan wisata tanahnya bisa padat. Tanah hasil normalisasi sisa kisdam dari sungai tersebut merupakan tanah asli bukan berupa pasir,” pungkasnya. (Redaksi WK)  
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News