Rusak Sedang, Ruang Kelas SD Direhabilitasi
Selasa, 12 Februari 2019 21:03 WIB
KLATEN (wartakonstruksi.com) – Banyak sekolah di Klaten yang sudah berusia tua. Terutama bila sekolah itu dibangun pada tahun 1970-an atau 1980-an. Saat itu pemerintah membangun banyak sekolah negeri yang dikenal dengan istilah sekolah Inpres. Karena sudah cukup berumur, akibatnya ada ruang kelas yang mengalami kerusakan. Sekolah ini yang kemudian harus direhabilitasi atau bahkan dibongkar bila sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Hanya tidak semua sekolah atau ruang kelas dibongkar habis dan kemudian dibangun kembali. Sebaliknya ada sekolah yang cukup direhabilitasi. Baca juga: Derajat Setiaji, Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarpras SD Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, ada perbedaan tingkat kerusakan ruang kelas atau bangunan sekolah. Kerusakan 30-45 persen bisa dikategorikan tingkat kerusakan ringan. Pada tingkatan ini bisa berupa pintu yang lepas engselnya, plafon yang berlubang atau memang sudah rusak sehingga harus diganti. Kerusakan 45-60 persen masuk kategori rusak sedang. Bisa berupa penggantian atap. Perbaikan ruang kelas di SDN 2 Gondang dan SDN 2 Pakis Sari yang digarap tahun lalu termasuk tingkat sedang. “Tingkat kerusakan di atas 60 persen, sudah termasuk rusak berat. Artinya sudah tidak bisa dipakai lagi atau memang sudah ambruk,” ujarnya.

Kondisi ruang kelas di SDN Gondang II Klaten setelah dilakukan rehab. Foto: Gonang Susatyo

Kerusakan di SDN Gondang disebabkan usia ruang kelasnya yang sudah tua. Di sini ada 6 kelas yang direnovasi dengan biaya Rp 222 juta. Sedangkan biaya rehabilitasi SDN Pakisari sebesar Rp 248 juta untuk 5 ruang kelas. Di SDN Gondang misalnya, dilakukan penggantian sebagian genteng ruang kelas. Ruang kelas juga ditinggikan dan dilakukan penggantian plafon. Rehabilitasi ruang kelas dilaksanakan selama 60 hari kalender pada September dan selesai November. Selama pengerjaan, kegiatan belajar-mengajar tetap bisa berjalan dengan baik. Pasalnya tidak semua ruang kelas langsung dikerjakan. Meski demikian, sekolah kemudian memberlakukan masuk pagi dan siang. Sebagian siswa masuk pagi. Dan kelas lain masuk siang.

Bangunan SDN Gondang II tampak dari depan. Foto: Gonang Susatyo

“Pengerjaannya memang berbarengan dengan proses belajar-mengajar. Namun tidak semua ruang kelas langsung diperbaiki. Ada tiga ruang kelas yang diperbaiki sehingga yang lain masih bisa dipergunakan. Bahkan setelah selesai bisa langsung digunakan untuk kegiatan sekolah. Jadi meski dilaksanakan di hari biasa, kegiatan belajar-mengajar tidak terganggu,” tutur Derajat. Banyak sekolah dasar di Klaten yang sesungguhnya membutuhkan perbaikan atau melengkapi fasilitas seperti perpustakaan, sanitasi dan masih banyak lagi. Namun dinas harus melakukan prioritas dalam pemenuhan kebutuhan. (Gonang Susatyo/Sodik)  
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News