Soal Pemenuhan Air DIY, Ir Djayadi: Sumur Resapan Lebih Efektif dari Bendung
Selasa, 03 Juli 2018 20:51 WIB
SLEMAN (wartakonstruksi.com) – Pembangunan sumur resapan merupakan suatu salah satu teknologi tepat guna medorong upaya konservasi sumber daya air dan tanah. Sangat positif jika dibangun di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pendapat tersebut disampaikan oleh praktisi penyedia air bersih, Ir Djayadi dalam perbincanganya dengan wartakonstruksi.com, Selasa (3/4/2018) malam di Restoran Omah Tobong, Klajuran. “Sumur resapan atau biopori ini merupakan teknologi tepat guna yang dapat dilakukan setiap orang,  menurut saya kalau air hujan misalkan 70 persen saja  masuk ke  bumi itu  merupakan sumber daya air yang bisa lestari,” ungkap alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Dijelaskan dia, struktur batuan di wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul hampir sama, yakni berasal dari endapan lahar Gunung Merapi. Di ketiga lokasi tersebut (Sleman, Bantul, Yogyakarta, red) tanah bersifat porositas sangat tinggi, yakin kemampuan menyerap air tinggi sebab memiliki rongga-rongga antar pasir. Baca juga: "Berbeda dengan tanah  lempung yang  rongganya rapat, sehingga diketiga tempat tersebut  mampu menyimpan air lebih besar,” jelas mantan konsultan penyediaan air bersih bagi 48 kecamatan di DIY melalui dana Asian Development Bank (ADB) periode 1987 – 1993. Dari catatan pengamalannya saat menangani proyek air minum  di wilayah Cangkringan, Sleman dengan sumber dari Umbul Wadon, setiap hujan besar tidak ada aliran air di pinggir jalan. Artinya 100 persen air terserap ke dalam tanah. "Dan suatu saat di tempat lain air tersebut pasti muncul, bisa berupa aliran air bawah  tanah," paparnya. Menyikapi hal tersebut, dia bependapat  bahwa prospek pembangunan sumur resapan di DIY sangat menguntungkan dalam jangka panjang. ”Kebutuhan sumur resapan dalam satu rumah bisa lebih dari satu, bisa juga dibuat di areal sawah  dengan teknik atau rekayasa tertentu, supaya kebutuhan bersawah tetap tercukupi namun tetap mengelola air agar bisa masuk sumur resapan, cocok dibuat pada kebun-kebun salak,” bebernya. Meskipun porositas tinggi, lanjut dia, masih diperlukan penelitian porositas struktur batuan. ”Dengan penelitian, kita bisa mengetahui daya tampung atau daya resap per sumur resapan per meter, semua bisa dihitung sehingga dapat diketahui kebutuhan disesuaikan luas lahan dan daya serap hasil penelitian, selain itu diperlukan pendanaan dari pemerintah untuk merealisasikannya, daripada harus membangun bendung yang biayanya lebih besar,” pungkasnya. (Redaksi WK)
Penulis :
Editor : editorwk
Tags :
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News