
Kloset jongkok yang ada di toilet bawah tanah kawasan titik nol kilometer terlihat bersih. Foto: Arif K Fadholy
Dia menegaskan, adanya toilet bawah tanah sangat membantu para wisatawan yang berkunjung. Dia berharap, toilet-toilet di kawasan tersebut ditambah, khususnya toilet portable yang tidak memakan banyak tempat. Jika jumlah toilet hanya sedikit, orang yang buang air sembarangan pasti akan lebih banyak. Saat ini saja, lanjut Elfian, masih banyak pengunjung yang buang air sembarangan di pojok Gedung Agung (Istana Negara) dan Benteng Vredeburg. Selain toilet penambahan musholla di kawasan tersebut juga sangat diperlukan, dikarenakan sangat jarang musholla di tempat itu.
Wastafel di dalam area toilet bawah tanah juga terawat dan bersih. Foto: Arif K Fadholy
Wisatawan dari Solo, Wahyu Saputra mengatakan, dirinya senang ada toilet gratis di sekitar tempat objek wisata seperti yang dekat dengan Titik 0 KM tersebut. Lebih bagus lagi kalau di dalam toilet tersebut selalu dibersihkan.
Urinoir di toilet bawah tanah titik nol kilometer dalam kondisi bersih dan terawat. Foto: Arif K Fadholy
"Yang penting di dalamnya, kalau bagus ya lebih bagus lagi. Kalau diperbanyak, kelihatannya memakan space yang besar. Harapannya toilet yang box-box (portable) itu diperbanyak. Tapi toilet portable biasanya jarang ada yang kondisinya selalu bersih,†katanya. Saat media ini meninjau lokasi, di pintu masuk terpampang tulisan toilet gratis. Di bawah tanah, terdapat meja yang diisi oleh tiga petugas. Di dalam Toilet putra terdapat 10 urinoir, dua toilet jongkok dan dua toilet duduk, serta 4 wastafel. Keadaan toilet pun nampak bersih dan terawat. (Arif K Fadholy/Sodik)| Penulis | : |
| Editor | : wkeditor |