Yogya Krisis Air pada 2025, BBWSSO Antisipasi dengan Bendung Pasuruhan
Senin, 25 Juni 2018 23:06 WIB

SLEMAN (wartakonstruksi.com) – Yogyakarta diprediksi bakal mengalami persoalan serius pada 2025. Data Badan pusat Statistis (BPS) menyebut,  mantan ibu kota negara RI ini bakal mengalami krisis air. karenanya diperlukan langkah strategis agar krisis itu bisa diantisipasi dengan baik.

Balai Besar Wilayah Sungai  Serayu Opak (BBWSSO), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) menyiapkan laangkah antisipasi dengan mendesain bendungan baru yang diproyeksikan dibangun di Pasuruhan Kabupaten Magelang.

“Kita  punya program berdasar hitungan data yang diambil dari BPS bahwa Yogya pada tahun 2025 akan mengalami kritis air, dari beberapa  hitungan ini dibutuhkan satu bendungan lagi. Kami telah mendesain bendungan Pasuruhan di utara Borobudur,” ucap Kepala BBWSSO, Tri Bayu Aji, Senin (25/6/2018) di kantornya Jl. Solo Km 6 Sleman.

Baca juga:

Menurut dia, bendungan ini nantinya akan menyuplai air baku yang didistrubusikan ke wilayah Magelang dan Yogyakarta untuk dimanfaatkan bagi keperluan domestik, municipal dan industri (DMI). Dari perhitungan yang dilakukan BBWSSO, 30 persen air baku itu akan didistribusikan untuk wilayah Magelang dan 70 persen untuk wilayah Yogyakarta.

”Menurut data BPS  peningkatan kebutuhan tidak terlalu signifikan untuk Magelang. jadi 30 persen sudah cukup termasuk untuk menopang kebutuhan di kawasan wisata nasional Borobudur. Sisanya 70 persen lagi didistribusikan untuk Yogya,” jelasnya.

Dijelaskan pula saat ini pemerintah berencana membangun sebanyak  65 bendungan baru, 49 di antaranya telah terelalisasi sedangkan sisanya akan terus dibangun secara bertahap hingga 2020. Meski tidak  termasuk dalam kategori proyek  straregi nasional namun bendungan ini masih memungkinkan untuk segera dibangun.

”Sudah kita ajukan ke menteri melalui Dirjen tapi belum dianggarkan, volume besar kira-kira sama dengan waduk Sermo, untuk 30-35 juta sambungan. Waktu pengerjaan ditargetkan rampung dalam waktu 3,5 tahun,” imbuh dia.

Menangapi beredarnya kabar penolakan oleh Pemkab Magelang, Aji mengaku tidak mempermasalahkannya. sebaliknya, ia mengajak untuk meninggalkan egosektoral. “Kalau saya tidak melihat aspek egosektoral saja , boleh Magelang bilang gak bisa, kalau saya kan melihat satu NKRI, dan kita selalu menyampaikan sosialisasi dan pemahaman manfaat bendung kepada masyarakat setempat,” pungkasnya. 

Penulis :
Editor : editorwk
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News