Proyek Jembatan Kedungjati Tak Diminati Kontraktor Lokal, Terlalu Sulit?
Rabu, 29 Januari 2020 12:13 WIB

Lelang+proyek+jembatan+Kedungjati+minim+peminat+dari+kontraktor+lokal

BANTUL (wartakonstruksi.com) – Lelang sebuah pekerjaan dilakukan untuk mendapatkan pemenang terbaik. Lelang dilakukan secara terbuka agar lebih banyak yang berpartisipasi dan banyak pilihan terhadap penyedia jasa yang tertarik menggarap pekerjaan itu.

Tapi bagaimana bila pekerjaan itu tidak diminati, padahal sudah dilelangkan secara terbuka. Terlebih tercatat ada puluhan penyedia jasa yang mendaftarkankan diri saat dokumen lelang diumumkan. Hal ini terlihat pada lelang Belanja Modal Pengadaan Jembatan Kedungjati, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul.

Baca juga

Dari hasil pantauan di laman lpse Kabupaten Bantul, proyek dengan pagu Rp 13,9 miliar tanggal pembuatan 23 Desember 2019, tercatat ada 81 perusahaan yang mendaftarkan diri. Tapi dari puluhan perusahaan itu, hanya ada dua saja yang mengajukan penawaran.

Penawar terendah, PT. Dwi Mulyo Lestari dengan penawaran sebesar Rp. 11.944.924.297,39 dan berikutnya terendah kedua sekaligus penawar terakhir PT. Surya Karya Setiabudi dengan penawaran sebesar Rp. 12.639.759.718,48.

Kondisi ini misalnya berbeda jauh dengan proyek Belanja Modal Pengadaan Jembatan Kiringan di Kecamatan Jetis. Pada lelang proyek dengan pagu Rp 14,7 miliar itu tercatat ada 91 peserta. Dari jumlah itu ada 10 perusahaan yang mengajukan panawaran.

Proyek Jembatan Benyo di Sendangsari Pajangan tak jauh beda. Pada proyek dengan pagu Rp 6,3 miliar itu tercatat ada 94 peserta, di mana sembilan di antaranya mengajukan panawaran. Proyek jembatan Dzikrul Ghofirin di Sewon dengan pagu Rp 6,7 miliar, pada proyek itu ada 93 peserta dan 8 di antaranya mengajukan penawaran.

Proyek jembatan Gayam dengan pagu Rp 12,5 miliar. Pada laman informasi tercatat ada 83 perusahaan yang menjadi peserta. Dari jumlah itu ada 4 yang mengajukan penawaran.

Salah satu kontraktor senior yang enggan disebut namanya saat dimintai tanggapan, memilih menjawab diplomatis. “Mungkin pekerjaannya sulit,” ucapnya.

Bila memang begitu, maka profesionalisme penyedia jasa di Kabupaten Bantul layak dipertanyakan karena seolah menghindari pekerjaan yang ‘sulit’. Mengingat dari dua penawar saja, satu berasal dari Sleman satu lagi berasal dari Madiun, Jawa Timur. Lalu, kemana kontraktor Bantul?

 

  

Penulis : O-Kz
Editor : Dodi Pranata
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News