KULON PROGO (wartakonstruksi.com) – Pameran pembangunan Manunggal Fair yang kini digelar di Gedung Budaya Kulon Progo menjadi salah satu rangkaian acara dalam Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo yang jatuh pada tanggal 15 Oktober. Event tahunan ini menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung.
Ratusan warga maupun siswa sekolah tetap antusias menyaksikan secara langsung event tahunan ini, meski berada di bawah sengatan terik matahari. Sejumlah warga berharap agar pelaksanaan Manunggal Fair lebih diperbaiki serta perlunya penambahan pohon perindang di kompleks Gedung Budaya, agar para pengunjung bisa lebih nyaman.
Baca juga
Saat dilakukan pemantauan di lokasi Manunggal Fair pada Jumat (4/10/2019), tampak ratusan siswa sekolah tengah mengunjungi gedung budaya yang dijadikan venue Manunggal Fair. Sedangkan di dalam komplek gedung tersebut panas sinar matahari sangat menyengat ditambah minimnya pohon perindang.
Di sejumlah titik yang ditanami tanaman hias pun tampak dedaunan dari tanaman tersebut sudah mengering dan terkesan kurang adanya perawatan dari pihak pengelola.
![{$lg[1]}](https://wartakonstruksi.com/upload/10-2019/manunggal-fair-2019--04-21.jpg)
Kusman Suroso salah seorang Guru dari SMPN 1 Wates yang tengah mendampingi ratusan siswa kelas VII dan Kelas VIII menuturkan, tiap tahun siswa sekolah tersebut memang diajak untuk menyaksikan pameran ini guna menambah wawasan dan pengetahuan.
“Tiap tahun para siswa selalu kita ajak, harapannya mereka mengetahui secara langsung serta menambah wawasan maupun pengetahuan adanya produk lokal daerah yang ditampilkan. Di sini kan sering dijadikan lokasi kegiatan sehingga harapannya ke depan pohon perindang bisa ditambah sehingga tidak terlalu panas seperti sekarang ini. Para pedagang itu juga perlu ditata sedemikian rupa sehingga kelihatan rapi,” ungkap Kusman.
Selain soal pohon yang terkesan kurang dirawat, keberadaan lapak dari para pedagang kaki lima juga terkesan kurang tertata dengan rapi lantaran letak lapak mereka tersebar di sejumlah titik.
Sedangkan keberadaan gedung budaya yang dibangun sejak 2014 dan menelan anggaran lebih dari Rp 42 miliar ini menggunakan tanah kas desa Pengasih seluas 4,2 hektare. Di sejumlah dinding pagar maupun tiang cor penyangga, yang mengitari Gedung Budaya tampak sudah mengalami keretakan yang cukup menganga terutama yang berada sisi sebelah selatan.
| Penulis | : Bhisma Bharata |
| Editor | : Sodik |