Proyek Muspro Bernama Underpass Kulur, Perencana Apa Kabar?
Sabtu, 13 Juni 2020 12:18 WIB

proyek+muspro+underpass+Kulur

KULON PROGO (wartakonstruksi.com) – Selain tepat waktu pengerjaannya, proyek fisik semestinya juga tepat sasaran dan tepat guna. Proyek yang didadai dengan duit rakyat semestinya memberi manfaat seluas-luasnya bagi kepentingan masyarakat. Bila tidak, tentu ada persoalan di dalamnya.

Ini yang terjadi pada underpass Kulur di Desa Kulur, Temon, Kulon Progo. Alih-alih memberi manfaat, proyek yang digarap tahun 2012 dengan dana Rp 4,1 miliar itu justru jadi proyek muspro. Kerap memakan korban jiwa, underpass bahkan sudah tidak digunakan lagi.

Baca juga

Pantauan wartakonstruksi.com di lokasi pada Jumat (12/6/2020), terlihat genangan air masih cukup tinggi dibagian tengah underpass memanjang hingga kedua sisinya. Di bagian ujung sisi selatan underpass ditutup disertai peringatan agar tidak dilewati siapa pun.

Di bagian samping terlihat pengaman dari bambu yang tampak belum terlalu lama dipasang. Pada bagian kawat pengikat bambu terlihat masih belum banyak berkarat dan tampak masih cukup bagus. Boleh jadi pengaman ini untuk menghindari jatuhnya korban jiwa seperti pada Februari 2020 lalu. di sekitar lokasi juga masih terlihat ada police line.

{$lg[1]}
Genangan air masih cukup dalam dan terlihat 2 mesin diesel yang tidak digunakan

Di bagian sisi selatan, ada dua mesin diesel dalam kondisi mati. Masing-masing mesin tersambung dengan pipa untuk menyedot air dari dalam underpass untuk kemudian ditarik dan dibuang ke luar, ke saluran yang ada di atas underpass. Di situ, dengan suara air mengalir. Meski tidak terlalu deras namun suaranya terdengar begitu jelas.

Taufik, aktivis LSM senior di DIY mengklaim bahwa proyek itu muspro karena tidak memberi manfaat bagi masyarakat. Menurut dia, pembangunan underpass boleh jadi memiliki tujuan yang baik, namun tujuan baik itu tidak didukung perencanaan yang baik dan matang.

Akibatnya, proyek tidak berfungsi sesuai harapan meski dari sisi konstruksi tampak cukup kokoh. “Kokoh saja buat apa kalau tidak bisa digunakan. Itu kan muspro. Mubadzir. Ini perencanaannya mesti gak beres. Jangan-jangan asal-asalan,” ungkap Taufik.

Lihat juga link videonya di sini :

https://www.youtube.com/watch?v=1d5yFeN-fPM

Aspek perencanaan kata Taufik, sangat vital lantaran turut menentukan hasil akhir dari sebuah proyek. Karena pelaksana akan mengerjakan proyek sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Dalam konteks Kulur, perencana semestinya memperhitungkan kondisi sekitar yang merupakan areal persawahan.

“Di atasnya memang ada rel kereta double track, tapi di samping rel itu persawahan. Nah underpass itu dibangun di bawahnya. Perencana harusnya memperhitungkan dengan matang agar tidak terjadi genangan. Tapi faktanya dari awal dibangun juga jadi masalah, sampai sekarang tidak diberfungsi,” tegasnya.

Ditambahkan, kasus underpass Kulur semestinya menjadi pelajaran bagi perencana proyek lain khususnya di wilayah DIY. Perencanaan harus dibuat sematang mungkin agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. “Perencana ini selalu luput, kalau proyeknya bermasalah paling kontraktornya yang kena, perencana jarang disentuh. Ke depan, perencana juga mesti dimintai tanggung jawab bila masalah itu indikasinya berawal dari perencanaan yang tidak baik,” tambahnya.

Penulis : O-Kz
Editor : Dodi Pranata
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News