Proyek Sabo Dam Kali Bebeng: Elevasi Top Oprit Jauh Dibawah Tanah Asli, Begini Kata PPK
Jumat, 16 Oktober 2020 13:22 WIB

top+oprit+sabo+dam+kali+bebeng+jauh+di+bawah+tanah+asli

MAGELANG (wartakonstruksi.com) - Pembangunan Sabo Dam Kali Bebeng yang berlokasi di perbatasan antara Jateng dan DIY tepatnya di Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Tempel merupakan salah satu program pemerintah dalam mengantisipasi banjir lahar dingin Gunung Merapi di wilayah tersebut. 

Sempat dikabarkan minus dari rencana, pembangunan sabo dam yang didanai APBN ini progres pekerjaannya masih sesuai harapan. Bahkan mengalami deviasi positif dari yang direncanakan.

Baca juga

"Progres Sabo Dam Kali Bebeng Minggu XVII Periode 5-11 Okt 2020, progres komulatif rencana 39,547 persen , progres komulatif realisasi 47,480 persen, ada deviasi positif 7,933 persen," ungkap pengawas lapangan proyek sabo dan kali bebebng Ir. Aryo Subiatoro.

Menurutnya, di awal pekerjaan memang sempat ada kendala. Selain medan lapangan yang sulit, arus air kali Bebeng cukup deras sehingga menyulitkan dalam pembutan kisdam. Namun demikian kendala tersebut kini dapat diatasi sehingga progres pekerjaan terus mengalami peningkatan. 

Saat ini pekerjaan masih menggarap apron, sub dam, dan sidewall sisi kiri. Sedangkan pekerjaan yang belum meliputi pembuatan inatake saluran irigasi, sidewall sisi kanan, dan oprit jalan.

Pengamatan media ini di lapangan, ada hal yang kurang lazim pada bangunan sabo dam tersebut. Pasalnya top oprit jalan yang ada di main dam elevasinya berada jauh di bawah tanah aslinya, diperkirakan turun mencapai 4 - 5 meter. 

Jalan yang dibangun di atas main dam tersebut memiliki lebar 4 meter, nantinya akan dipergunakan sebagai jalur evakuasi dan sebagai aksesibilitas masyarakat dan menjadi penghubung antara wilayah DIY - Jateng, yang sebelumnya hanya menggunakan jembatan bailey. 

PPK Pengendalian Lahar Gunung Merapi, M. Fachrurozi ST MT mengatakan, untuk top oprit memang dielevasi sesuai dengan desain dari Yachiyo Engineering Consultant. Top oprit diturunkan karena di atas dam tersebut ada existing jembatan bailley yang difungsikan sebagai jalur evakuasi apabila terjadi bencana, terutama bencana banjir lahar.

"Apabila top oprit dinaikkan, genangan akan mengenai jembatan bailey dan berpotensi banjir lahar melimpas ke kanan kiri dan tidak berada di palung sungai," jelas Fauzi.

Mengenai lebar dam, lanjut dia, memang sesuai desain yakni 4 meter, dengan memperhitungkan beban terberat, truk pasir bermuatan penuh. "Jika kita lebarkan maka beban dam sebagai oprit akan overload dan membahayakan fungsi utama bangunan sabo sebagai pengendali lahar sedimen," sambungnya.

"Sebagai alternatif untuk antisipasi lebar dam, di jalan sebelum masuk ke oprit akan dibuatkan semacam space (tempat berhenti sejenak) fungsinya sebagai tempat parkir sementara untuk bergantian kendaraan saat melintasi dam," tambahnya.

 

Penulis : O-Kz
Editor : Dodi Pranata
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News