YOGYAKARTA (wartakonstruksi.com) - Underpass Kulur di Kulon Progo yang kini berubah menjadi kubangan air sedang hangat diperbincangkan oleh netizen. Pasalnya infrastruktur yang dibangun sekitar 8 tahun yang lalu tersebut sudah tak lagi berfungsi secara normal.
Kepala Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan ESDM DIY, Bambang Sugaib ST MT saat dikonfirmasi media ini di kantornya Jl Gowongan Kidul menanggapi kondisi tersebut mengatakan bahwa permasalahan underpass Kulur cukup kompleks. Karenanya penanganan genanagan air di terowongan akan dilakukan secara bersama dengan melibatkan lintas sektor.
Baca juga
Menurutnya, penyebab terjadinya banjir di lokasi tersebut adalah kontur tanah. Tanah yang ada di kawasan underpass berada di area cekungan, sehingga permukaan air tanah sangat tinggi, penggalian dengan kedalaman 2 meter saja sudah bisa dapatkan air.
"Kontur tanah yang sangat cekung, sehingga muka air tanah itu sangat tinggi, bila digali dengan kedalaman 2 meter saja sudah keluar airnya," terang dia.
Selain berasal dari muka air tanah, lanjut dia, sumber genangan air tersebut juga berasal dari kiriman sebelah timur dan utaranya underpass. Meskipun intensitas hujan rendah potensi terjadi genangan cukup tinggi, apalagi hujannya deras.
Bambang menjelaskan, pembangunan terowongan tersebut dilakukan PT.KAI, dengan pertimbangan untuk menghindari perlintasan sebidang dengan tujuan untuk mengurangi angka kecelakaan di perlintasan.
Namun sayangnya penentuan lokasi terowongan bawah rel atau underpass yang dibangun pihak PT. KAI berada di lokasi yang kontur tanahnya sangat cekung. Jadi sangat riskan terjadi genangan.
Selain PT KAI, memang Pemprov DIY atas permintaan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga mengalokasikan anggaran untuk membangun akses jalan baru yang menuju terowongan. Pembangunan akses jalan tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2012.
Ditambahkan, untuk mengatasi genangan tersebut bukan berarti tidak ada upaya, Pemkab Kulonprogo sudah menyediakan pompa air untuk membuang air yang menggenang. Namun cara tersebut tidak cukup efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut karena kapasitas pompa tidak seimbang dengan volume air yang ada.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut pihaknya menginisiasi untuk melakukan studi kawasan. Karena penanganannya harus menyeluruh, tidak akan mampu bila hanya ditangani oleh satu sektor.
Dengan adanya studi kawasan tersebut, lanjut dia, harapannya akan menghasilkan satu rekomendasi terkait penanganannya. Sehingga menjadi acuan bagi masing-masing sektor dalam melakukan eksekusinya.
| Penulis | : D-PS |
| Editor | : Sodik |